Mengembangkan usaha bukan langsung besar, Namun ROSO dan Umang dari Sistem terpal dalam budidaya Pembibitan Lele, sekarang sudah bisa membangun dengan sistem Permanen, Sukses selalau Pemudaku
27 Juli 2009
Pengembangan USAHA
Mengembangkan usaha bukan langsung besar, Namun ROSO dan Umang dari Sistem terpal dalam budidaya Pembibitan Lele, sekarang sudah bisa membangun dengan sistem Permanen, Sukses selalau Pemudaku
SANG UMANG PENDEKAR LELE
Jika kita lihat Sosok yang sederhana, kalem ,rendah hati,,,,inilah salah satu dari sekian pemuda Desa Mondoretno , yang mampu melakukan suatu trobosan baru yaitu Budidaya Pembibitan Perikanan, dari Ikan Lele, Ikan Mas, Nila, Gurami dll, Umang melalakukan Pembibitan Perikanan ini sudah hampir lebih 1 tahun, dan hasilnya allhamdulilah Bagus dan prospek cerah..... semoga Desa Mondoretno akan lahir SANG UMANG lagi , menjadi Pemuda yang bekarya untuk kemajuan Desa dan masyarakat sekitarnya .....Maju terus Pemudaku........Sukses selalu
PASAR IKAN Desa Mondoretno
Allahmadulilah Proyek padat karya, untuk pengembangan budidaya perikanan Desa Mondoretno telah selesai, pada kesempatan ini Bpk Kepala Desa melakukan peninjuan, Diharapkan dengan adanya tempat terpadu, potensi yang selama ini belum diberdayakan akan tergali, Tempat Pembibitan perikanan ini , kedepanya akan dibangun PASAR IKAN, dimana disediakan Ikan yang siap untuk Kosumsi bagi Masyarakat , khususnya untuk memenuhi kebutuhan di Kab. Temanggung, diharapkan Menjadi CENTRA PERIKANAN (@by tintan)
10 Juli 2009
Tantangan masa depan, ancaman kelangkaan air
Saat ini, satu dari enam orang di dunia sulit mendapatkan akses air bersih. Perserikatan Bangsa-Bangsa memprediksi pada 2025, separuh dari negara negara di dunia akan menghadapi kekurangan air.
090417_water_taskforce_coverLaporan Asia Society, sebuah lembaga wadah pemikir yang berbasis di Washington mengatakan bahwa Asia tampaknya akan menghadapi konflik serius dalam suplai air bersih pada masa depan sejalan dengan percepatan pertambahan jumlah penduduk dan perubahan iklim yang mengancam akses mendapatkan sumber daya paling mendasar, air bersih.
Masalah air bersih di Asia saat ini sudah cukup memprihatinkan. 20 persen warga di Asia atau sekitar 700 juta orang tidak memiliki akses pada air yang aman untuk diminum. Separuh dari populasi di Asia, masih sulit mendapatkan sanitasi.
Walaupun separuh populasi dunia terdapat di Asia, mereka hanya mendapatkan sedikit air bersih dibandingkan mereka yang tinggal di benua lain. Jumlah populasi di Asia diduga akan mengalami kenaikan sekitar 500 juta orang pada sepuluh tahun mendatang.
Laporan yang dirilis Asia Society hari Jumat (17/04) berjudul “Tantangan Asia mendatang: Mengamankan Masa depan Air“. Laporan ini juga juga menjabarkan potensi perselisihan sengketa sumber air antara negara bertetangga yang bermusuhan seperti India dan Pakistan. Juga masalah kompleks sumber air antar beberapa negara seperti aliran sungai Mekong yang melewati Myannmar, Laos, Thailand, Kamboja dan Vietnam. Konflik antar negara yang berlarut-larut, masalah demografi dan kelangkaan air dapat menjadi masalah yang tak terduga pada dekade mendatang.
Para petani di Cina mengalami masalah air sebagai akibat dari polusi industri dan penyakit yang timbul dari mata air. Di Indonesia, masalah air lebih banyak disebabkan oleh fasilitas pembuangan air limbah yang tidak selayaknya.
Menurut para penelilti Asia Society, potensi konflik dapat muncul sebagai dampak langsung dan tidak langsung dari meningkatnya kelangkaan suplai air bersih. Hal ini tidak boleh dipandang remeh, apalagi ditambah dengan meningkatnya masalah perubahan iklim.
Bagian akhir laporan ini memuat sepuluh rekomendasi pada pemerintah negara-negara di Asia untuk memperhatikan masa depan sumber daya air. Kerja sama regional yang lebih luas antar negara merupakan hal pertama yang harus dibangun, termasuk perhatian terhadap kebijakan pola manajemen air sebagai tanggung jawab lingkungan, keamanan dan diplomatik. Selain itu, pemerintah juga harus melibatkan kelompok-kelompok masyarakat sipil dan perusahaan swasta dalam pengelolaan sumber air.
Perlu juga dicari model penengahan konflik yang berhubungan dengan sengketa air. Hal lain yang mendesak adalah investasi pada sektor publik dan swasta demi infrastruktur yang lebih baik dan manajemen air yang lebih efisien.
090417_water_taskforce_coverLaporan Asia Society, sebuah lembaga wadah pemikir yang berbasis di Washington mengatakan bahwa Asia tampaknya akan menghadapi konflik serius dalam suplai air bersih pada masa depan sejalan dengan percepatan pertambahan jumlah penduduk dan perubahan iklim yang mengancam akses mendapatkan sumber daya paling mendasar, air bersih.
Masalah air bersih di Asia saat ini sudah cukup memprihatinkan. 20 persen warga di Asia atau sekitar 700 juta orang tidak memiliki akses pada air yang aman untuk diminum. Separuh dari populasi di Asia, masih sulit mendapatkan sanitasi.
Walaupun separuh populasi dunia terdapat di Asia, mereka hanya mendapatkan sedikit air bersih dibandingkan mereka yang tinggal di benua lain. Jumlah populasi di Asia diduga akan mengalami kenaikan sekitar 500 juta orang pada sepuluh tahun mendatang.
Laporan yang dirilis Asia Society hari Jumat (17/04) berjudul “Tantangan Asia mendatang: Mengamankan Masa depan Air“. Laporan ini juga juga menjabarkan potensi perselisihan sengketa sumber air antara negara bertetangga yang bermusuhan seperti India dan Pakistan. Juga masalah kompleks sumber air antar beberapa negara seperti aliran sungai Mekong yang melewati Myannmar, Laos, Thailand, Kamboja dan Vietnam. Konflik antar negara yang berlarut-larut, masalah demografi dan kelangkaan air dapat menjadi masalah yang tak terduga pada dekade mendatang.
Para petani di Cina mengalami masalah air sebagai akibat dari polusi industri dan penyakit yang timbul dari mata air. Di Indonesia, masalah air lebih banyak disebabkan oleh fasilitas pembuangan air limbah yang tidak selayaknya.
Menurut para penelilti Asia Society, potensi konflik dapat muncul sebagai dampak langsung dan tidak langsung dari meningkatnya kelangkaan suplai air bersih. Hal ini tidak boleh dipandang remeh, apalagi ditambah dengan meningkatnya masalah perubahan iklim.
Bagian akhir laporan ini memuat sepuluh rekomendasi pada pemerintah negara-negara di Asia untuk memperhatikan masa depan sumber daya air. Kerja sama regional yang lebih luas antar negara merupakan hal pertama yang harus dibangun, termasuk perhatian terhadap kebijakan pola manajemen air sebagai tanggung jawab lingkungan, keamanan dan diplomatik. Selain itu, pemerintah juga harus melibatkan kelompok-kelompok masyarakat sipil dan perusahaan swasta dalam pengelolaan sumber air.
Perlu juga dicari model penengahan konflik yang berhubungan dengan sengketa air. Hal lain yang mendesak adalah investasi pada sektor publik dan swasta demi infrastruktur yang lebih baik dan manajemen air yang lebih efisien.
10 Juni 2009
PADAT KARYA
RADIO KAYU MADE IN KANDANGAN


KRISIS moneter yang menggoncang perekonomian dunia tidak membuat kecut hati alumnus design Institut Teknologi Bandung (ITB), Singgih Kartono (40). Ia tetap tekun dengan usaha pembuatan radio menggunakan bahan baku kayu. Berkat kreatititas produk dan strategi pemasaran yang jitu, produk karya Singgih berhasil melanglang buana mulai dari Jepang, daratan Eropa hingga Amerika sana.
Berkat karya radio ini, Singgih berhasil meraih penghargaan International Design Resource Association (IDRA) di Seattle Amerika Serikat pada 1997 lalu. Kerajinan ini jawara untuk kriteria produk dengan bahan yang bisa didaur ulang, memberi potensi besar terhadap proses daur ulang, dan memberi nilai lebih terhadap produk. Radio retro ini bisa disetel untuk AM atau FM, juga untuk MP3 dan dua band gelombang pendek.
Singgih mulai merintis usahanya itu sejak tahun 1995 lalu. Si penggagas radio kayu asal Desa Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah ini ingin mengubah pandangan orang bahwa kerajinan tangan tidak selalu identik dengan seni atau tradisional, tapi juga memasukkan industri elektronik.
Selain meraih penghargaan dari IDRA, radio kayu ‘made in’ Singgih tahun ini juga berhasil meraih penghargaan dari Design For Asia Award 2008.
Dunia kayu memang sudah melekat pada diri pria satu ini, sebelum ia menekuni bangku kuliahnya di ITB. “Saya tidak tahu persis, apa faktor kedekatan saya pada alam dan tumbuhan karena lingkungan alam di sekitar tempat saya tinggal di Temanggung banyak ditumbuhi pohon sengon dan sonokeling. Kayu merupakan material yang luar biasa hidup, berkesinambungan dan terbatas,” ujar Singgih saat ditemui Bangka Pos Group, pertengahan Oktober lalu.
Perjuangannya dimulai sejak ia akan berangkat kuliah ke ITB. Sang ayah tak sanggup membiayainya secara penuh. Singgih sempat nekad bertanya pada ayahnya, berapa biaya yang bisa diberikan oleh sang ayah. “Sisanya saya yang akan menanggungnya,” ujar Singgih.
Selesai menekuni masa belajarnya di Bandung, Singgih Kartono justru kembali ke tanah kelahirannya di Temanggung.
Materi kayu tetap jadi pilihan Singgih untuk mencari mata pencaharian. Tidak heran bila alumnus ITB ini sering modar mandir di sekitar tempat tinggalnya mengendarai Vespa milik ayahnya, hanya untuk mencari dan mengumpulkan potongan-potongan kayu sebagai bahan materi pembuatan produknya.
Singgih lalu merintis usaha di rumahnya yang diubah menjadi workshop. Sementara untuk pelaksanaan bisnis, Singgih terpaksa mengkontrak ruang tamu tetangganya sebagai tempat transaksi bisnisnya.
Awal mula Singgih merintis usahanya pada usaha produk-produk peralatan kantor, seperti stepler kayu, tempat selotipe, kotak peralatan. Baru tahun 2005 keinginan membuat kotak radio dilakukannya.
Jualan Lewat Internet
Semua produk kayu hasil produksi Singgih ditawarkannya melalui jalur internet, mengingat bila dilakukan secara langsung, banyak kendala yang harus dihadapi. Dengan internet, buyer (pembeli) dapat langsung mengkontak dan sekaligus datang untuk membeli produknya.
Diakui Singgih, setiap pembeli produk radio kayunya harus tetap menggunakan namanya serta merek usahanya, Magno.
“Saya tidak mengizinkan pembeli radio kayu produk saya mengganti dengan nama lain,” kata Singgih.
Radio kayu Singgih dijual dari kisaran 80, 58 dan 47,5 dolar AS untuk ukuran radio kayu kecil. Bahkan di Amerika, harga radio yang dibandrol dengan harga 47,5 dolar ini mampu menembus angka 250 unit per bulan.
Perusahaan milik Singgih bernama Magno, memulai merintis usaha pertamanya membuat tempat kaca pembesar dan tempat kompas dari kayu. Kini Magno telah memiliki 33 tenaga pekerja dari Desa Kandangan. Kapasitas produksinya 250 hingga 300 unit radio per bulan. Dari jumlah itu, sekitar 80 persen produknya diekspor ke Amerika Serikat, sisanya masing-masing 15 persen ke kawasan Eropa dan Jepang.
Selain melakukan kegiatan bisnisnya dari bahan kayu, tak lupa setiap 2 persen persen dari hasil penjualan produk-produk radio maupun peralatan kantor disisihkan Singgih untuk pembibitan kayu sengon maupun sonokeling. Singgih tahu betul akan ekosistem alam, setiap dia menggunakan pohon untuk memproduksi, maka ia segera menanam kembali penggantinya.
Mau tahu berapa besar omzetnya? Dari 300 radio kayu yang dijual hingga 250 dolar AS, Singgih mampu memperoleh Rp 750 juta per bulan. Kini keuntungannya terus berlipat seiring terus berkembangnya usaha ini. Bahkan Singgih mengaku jumlah permintaan produk buatannya berkisar 500 hingga 600 unit per bulan.
Singgih pantas diacungi jempol. Selain mampu menghidupi kebutuhan keluarga, usahanya turut membantu kehidupan tetangga yang ikut bekerja memproduksi radio kayunya. Singgih hingga saat ini tidak pernah meraih penghargaan dari negerinya sendiri, justru dari dunia internasional memberikan apresiasi terhadap buah tangan orang asli Indonesia ini. (Persda Network/Budi Prasetyo)
03 Juni 2009
Sumbing-Sindoro-Prau terancam gundul

TEMANGGUNG - Kawasan tiga gunung yakni Sumbing, Sindoro dan Prau terancam gundul. Hal itu bisa terjadi jika lahan tidak dikonversi. Diperkirakan 20 tahun ke depan pegunungan itu akan gundul dan tandus seperti Wonosari, Gunungkidul. Apalagi erosi di bagian atas Gunung Sumbing Sindoro dan Prahu mencapai 60 ton per hektar setiap tahun.
"Erosi itu antara lain akibat penanaman tembakau. Jelas sangat mengkhawatirkan. Maka semua pihak harus segera memikirkan ancaman gundulnya tiga gunung itu supaya lingkungan hidup tidak membawa bencana bagi masyarakat di masa mendatang," ujar Bupati Temanggung Hasyim Afandi ketika membuka Dialog Publik "Desarin Zonasi Kawasan Penyangga Su-Si- Prahu (Sumbing Sindoro Prahu) ", di pendapa pangayoman, Senin (1/6).
Sementara itu Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jawa Tengah menargetkan pada 2009 akan membenahi 200 hektar dari total 14.000 hektar lahan kritis di wilayah Temanggung akibat pengembangan tanaman tembakau. Sebagaimana diketahui bahwa 14.000 lahan kritis itu berada di Gunung Sumbing, Gunung Sindoro dan Gunung Prahu.
Buat terasiring
"Konservasi yang akan kita lakukan di 200 ha lahan kritis tersebut dengan membuat sistem terasiring di lahan dengan kemiringan 45 derajat. Diselingi tanaman kopi arabika jenis lini s dan rumput gajah untuk pakan ternak. Serta dengan membuat bantaran di sekitar Kali progo yang akan ditanami bambu," kataKetua APTI Jawa Tengah Nurtantio Wisnubroto.
Yanaman semusim, seperti tembakau, pasti akan menimbulkan dampak kerusakan lingkungan. Kondisi ini mendorong terjadinya pemanasan global. Karena itu Wisnu berniat mengajak seluruh petani tembakau mengubah cara pandangnya agar lebih ramah terhadap lingkungan.
"Namun bukan berarti kita akan mengarahkan semua petani agar menghentikan tanam tembakau, lalu beralih ke tanaman lain. Budidaya tembakau tetap jalan. Hanya saja, sikap petani pada lingkungan harus berubah," kata Wisnu.
Hamparan tembakau, akan ditanam di Zona II dengan ketinggian lebih dari 900 mdpl, dan zona III dengan ketinggian kurang dari 900 mdpl-700 mdpl di Gunung Sumbing, Sindoro dan Pegunungan Prahu. Zona I tetap dijadikan kawasan hutan lindung.
Langganan:
Postingan (Atom)



